Awal Bangkitnya Peradaban Manusia
Salah satu peristiwa agung dalam sejarah umat Islam ialah turunnya kitab suci al-Quran.atau disebut Nuzulul Quran. Peristiwa ini merupakan momen terpenting di bulan Ramadhan. Hal ini direkam dalam al-Quran, melalui firman Allah dalam surah al-Baqarah, ayat 185
“Ramadan yang padanya diturunkan al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekelian manusia, dan menjadi keterangan yang menjelaskan petunjuk dan menjelaskan perbezaan antara yang benar dan yang salah.”
Mengingat pentingnya peristiwa tersebut, banyak masyarakat sampai-sampai membuat peringatan ritual terkait peristiwa itu, yang mereka yakini jatuh pada tanggal 17 Ramadhan dan mereka namakan dengan peringatan Nuzūlul Qur`ān. Kita ketahui ayat al-Qur`ān yang pertama kali diturunkan dimulai dengan kata: iqra`; perintah untuk membaca. Hal ini Allah mengisyaratkan kepada hamba-Nya bahwa membaca adalah awal atau kunci pembuka segala sesuatu bentuk kebaikan.
Membaca merupakan gerbang segala ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu merupakan sumber perkembangan peradaban di dunia sekaligus sumber kebahagiaan dan kejayaan di dunia dan akhirat. Imam asy-Syāfi’i telah mensinyalir hal tersebut melalui ucapan beliau, “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah ia mencari ilmu dan barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah ia mencari ilmu.” [Nasyr Thayyit Ta'rīf fī Fadhl Hamalah al-'Ilm asy-Syarīf hal. 162]
Merupakan fakta yang diterima oleh semua orang bahwa tingkat peradaban suatu bangsa berbanding lurus dengan tingkat ilmu pengetahuannya, sedangkan pintu gerbang pertama dan utama ilmu pengetahuan adalah dengan membaca. Karena ilmu pengetahuan maka umat Islam mencapai masa kejayaan dan menjadi pusat peradaban pada masa Dinasti ‘Abbasiyyah (abbasid caliphates), sekitar 750-1250 M; ketika Barat justru sedang mengalami zaman kegelapan (dark ages) atau lebih sering disebut zaman pertengahan.
Dalam The History of The Arabs, Philip K. Hitti berkata, “Orang Islam Spanyol berjaya mencatat sejarah intelektualitas yang agung di zaman pertengahan dahulu. Merekalah sebenarnya pembawa obor budaya dan tamadun bagi seluruh dunia terutamanya antara abad kelapan dan tiga belas Masehi.”
Hal senda dikemukakan Marquis of Dufferin and Ava dalam Speeches. “Eropa berhutang budi kepada sains, seni dan sastera Islam. Faktor-faktor itulah yang menyebabkan Eropa akhirnya keluar dari kegelapan zaman pertengahan.”.
Perkara yang sarna dinyatakan oleh Dr. Roben Briffault dalam The Making of Humanity pada bab Dar Al-Hikmet. Dia berkata, “Roger Bacon bukanlah tokoh yang memperkenalkan konsep eksperimen dalam ilmu. Tetapi belajar pada sains dan metodologi Islam, dan ilmu yang beliau peroleh ini kemudian dia kembangkan ke Barat. Dia tidak pernah jemu untuk mengatakan bahawa bahasa Arab dan sains Arab adalah satu-satunya pintu bagi mereka di zamannya untuk mengenali ilmu yang hakiki…. Sumbangan dari tamadun Arab kepada dunia moden yang paling bermakna ialah sains.”
Memang benar, tanpa Islam Barat tidak akan mengenal sains dan teknologi. Robert Briffault mengatakan Di bawah naungan konsep toleransi agama, golongan Kristian hidup penuh kebebasan di bawah pemerintahan khalifah Islam di Spanyol. Pelajar-pelajar Kristian dari pelbagai pelosok Eropa datang ke negara Arab ini untuk belajar. Lebih lanjut dikemukakan “Orang-orang Arab memperkenalkan tiga ciptaan untuk Eropa. Setiap ciptaan ini kemudian melahirkan revolusi teknologi yang tersendiri di peringkat global. Pertama adalah kompas (mariners compass). Dengannya Eropa berkembang ke seluruh pelosok dunia. Kedua adalah bubuk bedil (gun powder).
Dengannya berakhirlah era pahlawan berkuda dengan baju perisainya. Ketiga adalah kertas (paper), yang membuka jalan kepada ciptaan alat-alat penerbitan yang canggih.”
Demikianlah Islam memberi andil dalam peradaban dan ilmu pengetahuan dunia. Pencapaian (achievement) yang sedemikian tentu tidak lepas dari semangat membaca yang telah ditanamkan oleh Islam sejak permulaan risalah melalui wahyu yang pertama kali diturunkan.(Dari berbagai sumber)
Senin, 24 November 2008
Ma’Badong
Nyanyian Duka Masyarakat Toraja
He...e.....e....he.....oh......o.....o....o.....ho.........
Jika mendengar suara orang ma’badong, kata yang paling dominan terdengar adalah seperti tersebut diatas. Tapi jika kita teliti dengan seksama ternyata didalam bunyi He....e....e....he.....oh...........o.....o...ho....... tersebut terdapat sebuah syair dengan kalimat-kalimat yang punya arti yang sangat dalam.
Tanah Toraja, Sulawesi Selatan memiliki beragan kesenian daerah yang telah mendarah daging secara turun temurun. Salah satu di antaranya adalah Ma’badong. Ma’badong merupakan tarian kedukaan yang diadakan dalam upacara ritual kematian masyarakat Tanah Toraja.
Tarian ini dilakukan secara berkelompok pada umumnya oleh kaum pria, baik muda atau pun tua, namun wanita juga tidak dilarang. Para penari (pa’badong) membentuk sebuah lingkaran dan saling mengaitkan jari kelingking sambil melantunkan syair dan nyanyian ratapan disertai gerakan tangan dan langkah kaki yang disesuaikan dengan irama lagu. Dulu para ma’badong mengenakan kostum serba hitam namun seiring dengan perkembangan zaman, kostum yang dipakai tidak lagi berwarna hitam.
Penari ma’badong bergerak dengan gerakan langkah yang silih berganti. Suasana malam itu menjadi tambah sakral ketika para penari melantunkan syair atau lagu kesedihan (Kadong Badong). Lantunan syair ma’badong ini berisikan riwayat manusia mulai dari lahir hingga mati dan do'a, agar arwah si mati diterima di negeri arwah (Puya) atau alam di alam baka.
Lagu dilantunkan oleh si penari ini tidak menggunakan not. Syair dan lagu berisikan semacam catatan sejarah tentang keluhuran budi dan kebesaran jasa tokoh yang telah meninggal dunia tersebut. Lagu atau syair tersebut disebut "BATING" . Bating ini di suarakan oleh Indo' badong yang mana Indo' badong tersebut bertugas untuk mengatur setiap syair yang dilantunkan dan bentuk iramanya.
Tarian bergantian, sambung menyambung di pelataran Tongkonan tempat ritual digelar. Lama tarian ma’badong ini biasanya menelan waktu berjam-jam, semalam suntuk, bahkan terkadang berlangsung sampai tiga hari tiga malam sambung-menyambung di pelataran tempat upacara berduka.
Beberapa waktu lalu, ketika warga Tanatoraja memprotes penahanan Bupati Amping Situru, mereka bahkan menggelar upacara Ma'badong dengan memotong seekor kerbau di depan kantor Kejati Sulsel. Upacara Ma'badong dilakukan warga Tanatoraja ini sebagai pelambang duka yang teramat sangat. Mereka menganggap bahwa pengadilan di negeri ini telah mati. Begitulah masyarakat Tanatoraja memaknai sebuah kedukaan.(Salmawati)
Salah satu syair awal dari bating yang dilantunkan pada acara tarian ma’badong antara lain :
"Umbamira sang tondokna, tomai sang banuanna ,sang to’doan tarampakna.
Ke’de’ko ta tannun bating, tana pana’ta’ rio-rio
Rio-rio memtarampak, bating messa’ de banua
Mariokan kami, makarorrong silelekan, rammangkan massolanasang, sukkunkan angge mairi'."
Serupa tapi tak sama
Tari Ma’badong serupa dengan tari Nondo. Perbedaan keduanya hanya terletak pada saat pelaksanaannya. Bila dilakukan saat upacara pemakaman, tarian ini disebut Ma'Badong, dan disebut Nondo bila dilakukan di saat suka cita. Para penari pria maupun wanita berusia setengah baya maupun yang sudah tua, membuat lingkaran dengan saling mengkaitkan jari-jari kelingking.
Pakacaping
Musik instrumental tradisional Sulawesi Selatan yang diciptakan oleh seorang pelaut Bugis Makassar
Pakacaping adalah salah satu musik instrument tradisional daerah Sulawesi Selatan yang dikenal dalam etnis Makassar, Bugis, dan Mandar. Alat musik ini mirip dengan hasapi (Tapanuli), atau kecapi untuk etnis Sunda dan Jawa.Secara etimologis, Pakacaping diartikan sebagai pemain kecapi yang berasal dari dua suku kata yaitu pa berarti ‘pemain’ dan kata Kacaping berarti ‘instrumen kecapi’. Alat musik ini terbuat dari kayu berdawai dua dan berbentuk menyerupai perahu.
Menurut sejarahnya kecapi diciptakan oleh seorang pelaut Bugis Makassar yang telah berhari-hari berlayar di laut lepas meninggalkan gadis pujaan hatinya di darat, tiba-tiba badai datang dan tali perahu yang terikat dilayar berbunyi diterpa angin kencang. Bunyi yang amat indah menimbulkan kerinduan mendalam pada kekasih yang ditinggal. Begitu badai berlalu, sang pelaut mengambil sebagian tali layarnya lalu diikatkan pada dayung perahu, kemudian dipetik dengan iringan lagu. Setelah kembali ke darat, dibuatlah sebuah alat bunyi yang berbentuk perahu dua tali yang dipetik dan dibuatkan syair-syair (Kelong) berpantun dengan ketentuan 8.8.5.8.
Awalnya Pakacaping merupakan permainan untuk menghibur diri sendiri di waktu senggang. Pemain kecapi menikmati kobbi’-kobbi’na (petikan-petikannya sendiri) tanpa ada kebutuhan pendengar. Namun dalam perkembangannya Pakacaping menjadi seni pertunjukan dalam berbagi konteks adat istiadat assua’-sara’ (keramaian).
Bagi masyarakat Gowa Sulawesi-Selatan misalnya, Pakacaping adalah bagian yang tak terpisahkan dari tradisi adat a'gau-gau. Hadirnya seni pertunjukan dalam setiap upacara adat merupakan bagian dari semangat untuk menjamu dan menghormati setiap orang yang datang menghadiri pesta upacara yang dilaksanakan. sampai saat ini masih dapat disaksikan lewat acara-acara adat-istiadat, seperti pesta adat upacara perkawinan, khitanan, sunatan, hari-hari besar kerajaan, hari-hari besar kenegaraan,dalam rangka festival budaya, dan bahkan dalam acara pertunjukan yang dikelola khusus secara konvensional.
Dalam memainkan kacaping, seorang pemain biasanya duduk bersila, memangku alat (kecapi) menghadap penonton dengan menggunakan kostum berupa ikat kepala (patonro), baju balla dada, celana baroci dan sarung yang diikatkan dipinggang, memetik kecapi, lagu mana yang akan di mainkan. Dari teknik memetik, teknik improvisasi dan teknik penampilan apalagi vocal yang indah, akan memancing penonton dan pendengar untuk turut bereaksi atau membalas nyanyian dari Pakacaping. Biasanya, makin larut malam, semakin seru karena syair-syair yang disampaikan semakin hangat.
Kecapi Kuno
Kecapi kuno ini ditemukan oleh nenek moyang bangsa Tionghoa pada zaman Dinasti Zhou lebih dari 3 ribu tahun yang lalu. Pada zaman dahulu disebut sebagai “Qin” atau “Yao Qin” dan merupakan instrumen putar kuno Tiongkok. Orang zaman dahulu sebelum main kecapi harus mandi dan mengganti baju, kemudian baru main kecapi dengan menaruh kecapi di atas bahu atau meja. Tangan kiri putar senar, tangan kanan tekan senar, dan tuntutan ketepatan bunyi musik sangat ketat.
Hasapi
Hasapi, atau gitar Batak memiliki kemiripan dengan Kacaping Bugis Makassar, memiliki dua dawai. Hasapi Batak memiliki keunikan tersendiri, dalam tangga nada, jelas, ada pengaruh Barat. Misalnya, penyetelan dua dawainya itu. Tapi dalam struktur terutama dalam pengulangan melodi dan ritme, pengaruh Barat itu hilang. Hasapi di batak dibedakan atas dua yaitu hasapi ende dan hasapi doal (alat petik dua senar)
Mappaccing
Simbol Perkawinan Bugis Makassar
Pernikahan merupakan jalan untuk melanjutkan keturunan berdasar atas cinta kasih yang sah, dalam mempererat hubungan silaturahmi antar keluarga, suku, bahkan antar bangsa. Sebelum akad nikah, dirumah calon mempelai perempuan diadakan acara Korongtigi atau malam pacar yang dalam bahasa Bugis disebut Mappaccing.
Kata Mappaccing berasal dari Paccing yang berarti pacar dan diibaratkan sebagai alat untuk menyucikan sang gadis dari hal-hal yang bersifat kekotoran, baik secara fisik maupun batin, agar memperoleh keselamatan, kesejahteraan dalam mengarungi kehidupan berumah tangga kelak. Sebagai rangkaian perkawinan adat Bugis Makassar, mappaccing menggunakan symbol-symbol yang sarat makna akan menjaga keutuhan keluarga, dan memelihara kasih sayang dalam rumah tangga seperti Benno, Tai Bani, Bantal, Sarung yang disusun tujuh lapis, Daun Pisang, Daun Nangka dan Bekkeng.
Benno yaitu beras yang digoreng kering hingga mekar melambangkan harapan, semoga calon pengantin ini akan mekar berkembang dengan baik, bersih dan jujur. Tai Bani merupakan lilin dari lebah, yang melambangkan suluh (penerang) kehidupan agar menjadi suri tauladan dalam kehidupan bermasyarakat.
Bantal disimbolkan kemakmuran. Secara khusus diartikan sebagai pengalas kepala yang artinya penghormatan atau martabat, dalam bahasa bugis disebut Mappakalebbi. Sarung yang disusun 7 lembar, melambangkan harga diri. Daun Pisang, melambangkan kehidupan yang sambung menyambung. Daun Nangka, berarti cita-cita yang luhur. Bekkeng, tempat paccing yang sudah ditumbuk halus, mengandung arti kerukunan hidup dalam suatu keluarga. dan daun paccing itu sendiri yang melambangkan kesucian
Prosesi Mappaccing dilaksanakan pada malam hari, calon mempelai duduk di Lamming , dengan tangan bersimpuh mengahadap ke atas. Saat pembaca barzanji (pabarazanji) sampai pada bacaan Badrun Alaina, yang dalam bahasa Makassar dikenal sebagai istilah Niallemi saraka, acara mapaccing dimulai. Dengan sedikit mengambil daun paccing, seorang ibu membubuhi telapak tangan calon pengantin, sementara itu barzanji tetap di bacakan. Setelah semua tamu yang ditetapkan melakukan Mapaccing, seluruh hadirin bersama-sama mendoakan semoga calon mempelai mendapat restu dari Allah dan menjadi suri tauladan karena martabat dan harga dirinya yang tinggi.
Langganan:
Komentar (Atom)
