Nyanyian Duka Masyarakat Toraja
He...e.....e....he.....oh......o.....o....o.....ho.........
Jika mendengar suara orang ma’badong, kata yang paling dominan terdengar adalah seperti tersebut diatas. Tapi jika kita teliti dengan seksama ternyata didalam bunyi He....e....e....he.....oh...........o.....o...ho....... tersebut terdapat sebuah syair dengan kalimat-kalimat yang punya arti yang sangat dalam.
Tanah Toraja, Sulawesi Selatan memiliki beragan kesenian daerah yang telah mendarah daging secara turun temurun. Salah satu di antaranya adalah Ma’badong. Ma’badong merupakan tarian kedukaan yang diadakan dalam upacara ritual kematian masyarakat Tanah Toraja.
Tarian ini dilakukan secara berkelompok pada umumnya oleh kaum pria, baik muda atau pun tua, namun wanita juga tidak dilarang. Para penari (pa’badong) membentuk sebuah lingkaran dan saling mengaitkan jari kelingking sambil melantunkan syair dan nyanyian ratapan disertai gerakan tangan dan langkah kaki yang disesuaikan dengan irama lagu. Dulu para ma’badong mengenakan kostum serba hitam namun seiring dengan perkembangan zaman, kostum yang dipakai tidak lagi berwarna hitam.
Penari ma’badong bergerak dengan gerakan langkah yang silih berganti. Suasana malam itu menjadi tambah sakral ketika para penari melantunkan syair atau lagu kesedihan (Kadong Badong). Lantunan syair ma’badong ini berisikan riwayat manusia mulai dari lahir hingga mati dan do'a, agar arwah si mati diterima di negeri arwah (Puya) atau alam di alam baka.
Lagu dilantunkan oleh si penari ini tidak menggunakan not. Syair dan lagu berisikan semacam catatan sejarah tentang keluhuran budi dan kebesaran jasa tokoh yang telah meninggal dunia tersebut. Lagu atau syair tersebut disebut "BATING" . Bating ini di suarakan oleh Indo' badong yang mana Indo' badong tersebut bertugas untuk mengatur setiap syair yang dilantunkan dan bentuk iramanya.
Tarian bergantian, sambung menyambung di pelataran Tongkonan tempat ritual digelar. Lama tarian ma’badong ini biasanya menelan waktu berjam-jam, semalam suntuk, bahkan terkadang berlangsung sampai tiga hari tiga malam sambung-menyambung di pelataran tempat upacara berduka.
Beberapa waktu lalu, ketika warga Tanatoraja memprotes penahanan Bupati Amping Situru, mereka bahkan menggelar upacara Ma'badong dengan memotong seekor kerbau di depan kantor Kejati Sulsel. Upacara Ma'badong dilakukan warga Tanatoraja ini sebagai pelambang duka yang teramat sangat. Mereka menganggap bahwa pengadilan di negeri ini telah mati. Begitulah masyarakat Tanatoraja memaknai sebuah kedukaan.(Salmawati)
Salah satu syair awal dari bating yang dilantunkan pada acara tarian ma’badong antara lain :
"Umbamira sang tondokna, tomai sang banuanna ,sang to’doan tarampakna.
Ke’de’ko ta tannun bating, tana pana’ta’ rio-rio
Rio-rio memtarampak, bating messa’ de banua
Mariokan kami, makarorrong silelekan, rammangkan massolanasang, sukkunkan angge mairi'."
Serupa tapi tak sama
Tari Ma’badong serupa dengan tari Nondo. Perbedaan keduanya hanya terletak pada saat pelaksanaannya. Bila dilakukan saat upacara pemakaman, tarian ini disebut Ma'Badong, dan disebut Nondo bila dilakukan di saat suka cita. Para penari pria maupun wanita berusia setengah baya maupun yang sudah tua, membuat lingkaran dengan saling mengkaitkan jari-jari kelingking.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar